Kembali

Pukul 10.12 gawaiku bergetar.
Getaran kecil itu terasa lebih keras dari biasanya, seolah mengetuk sesuatu di dadaku yang sudah lama terkunci.
Aku tahu ada pesan masuk.
Aku tidak langsung membukanya.
Duniaku dengan teman kecilku belum selesai di kelas.

Aku melirik layar.

Ah, Meri… kesayangan.

Nama itu membawa banyak kenangan.
Tentang tawa yang dulu sering kita bagi,
tentang jarak yang perlahan tumbuh tanpa kita sadari,
tentang diam yang terlalu lama kita biarkan.

Ada apa ya?

Tak lama kemudian, Meri meminta bertemu.
Hari ini hari kerja.
Aku tahu betul ritme hidupnya sekarang pekerjaan, pasangan, buah hati, dan segala tanggung jawab yang membuat waktu menjadi barang mahal.
Dulu saja, saat hidupnya belum seramai ini,
jika ingin bertemu waktu lepas magrib yang menjadi rutinas kami bertemu
Tak pernah siang. Tak pernah mendadak.

Maka ajakan hari ini membuatku terdiam.

Pesan WhatsApp itu menjelaskan semuanya.
Ia tak jadi bekerja. Banjir memaksanya berbalik arah.
Dan di sela kejadian yang merepotkan itu,
ia hanya berpikir satu hal:
“Kirain bisa lunch bareng kakak.”

Kalimat sederhana.
Tapi rasanya seperti cubitan halus di hati.

Percakapan kami  di whatsapp mengalir canggung.

Penuh tanya, penuh jeda.
Kami menimbang jarak, waktu, dan kesibukan masing-masing.
Aku pun masih terikat agenda pekerjaan.

Jam setengah dua harus kembali, ada rapat menunggu.
Namun entah kenapa, kali ini aku tak ingin menunda.

Akhirnya kami sepakat.

Dan benar…
di waktu yang disepakati, kami pun bertemu.

Tak ada pelukan berlebihan.
Tak ada kata rindu yang lantang.
Tapi matanya, 
matanya menyimpan banyak cerita yang tak sempat terucap.

Ada semburat rindu di sana.
Ada rasa bersalah yang diam-diam menempel di dadaku.

Karena.... 

Aku tidak ada di sampingnya
saat hidup memberinya kebahagiaan.
Aku juga tak hadir
saat duka datang dan ia harus kuat sendirian.

Kakak macam apa aku ini?

Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri.
Dunia ku yang pada saat itu pun sebenarnya
tidak sedang baik-baik saja.
Aku memilih bertahan,
tapi lupa menggenggam.

Pertemuan itu mengalir perlahan.
Tentang hidup. Tentang anak. Tentang lelah dan tentang apa yang di deritanya.. 
Dan tiba-tiba…
air mataku jatuh.

Aku tak kuasa menahannya.

Tangis itu bukan sekadar penyesalan.
Ia adalah rindu yang akhirnya menemukan jalannya pulang.
Ia adalah syukur karena semesta masih mengizinkan kami duduk berhadapan,
di meja sederhana,
di siang yang basah oleh hujan.

Hari itu aku berjanji pada diriku sendiri, 
aku akan merobohkan dinding yang sempat berdiri di antara kami.
Dinding ego.
Dinding kesibukan.
Dinding “nanti saja”.

Karena Meri adalah adikku.
Kami memang tak sedarah,
tapi ada ikatan yang lebih dalam dari itu adalah
hati yang memilih untuk saling mengakui.

Ketemu terus ya, Mer.
Jangan sampai terputus lagi.

Saat kami berpisah, hujan turun deras.
Seolah ikut mengamini perasaan yang tak ingin usai.
Di tengah hujan itu,
Meri menyematkan sebuah hadiah untukku.

Hadiah itu…
sampai sekarang masih tersimpan di dalam mobil.
Aku belum berani membukanya.
Tanganku menolak, hatiku ragu.

Aku takut, khawatir

Takut jika hadiah itu menjadi penanda pertemuan terakhir.
Dan aku tidak mau menerima kemungkinan itu.

Karena aku ingin ada.
Aku ingin belajar hadir.
Aku ingin menjadi kakak yang tidak hanya ada dalam ingatan,
tapi juga dalam kehidupan.

Terus bertemu ya, Mer.
Aku kakakmu.
Dan kali ini, aku ingin tinggal—
bukan hanya lewat.

Komentar

Posting Komentar

Terima kasih atas commentnya. Yuukk lihat postingan yang lain

Postingan populer dari blog ini

Akhir Tahun Yang Berbeda

Cerita Pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti: Belajar Rukun di Dalam Keluarga Senin 19 Januari 2026 Kelas 1C SDN TANGERANG 3

Menjahit Ragu Menjadi Aksara: Catatan Hangat dari Grup WhatsApp yang Tak Pernah Sepi Makna