Postingan

Belajar

Gali Potensi, Ukir Harapan yang Lama Tertunda

Gambar
Hari ketiga  kegiatan KBMN PGRI Gelombang 34, saya Narasumber luar biasa Ibu Aam Nurhasanah, dan dipandu oleh moderator Ibu Eka.  Judul materi Gali Potensi Ukir Prestasi  Malam itu, saya kembali membuka layar ponsel dengan perasaan yang berbeda. Ada harap yang diam-diam saya rawat, meski sering kali terasa jauh dari jangkauan.  Saya, seorang pemerhati yang mencintai dunia tulis menulis, masih berdiri di titik yang sama belum pernah melahirkan satu pun buku solo. Rasanya seperti memiliki mimpi besar, tetapi kaki enggan melangkah karena takut tersandung keraguan sendiri. Itulah yang membawa saya bertahan di perjalanan panjang bersama KBMN. Hari ketiga KBMN PGRI Gelombang 34 menjadi salah satu malam yang tidak ingin saya lewatkan begitu saja. Dengan penuh semangat, saya mengikuti sesi yang dipandu oleh Ibu Eka Agisty sebagai moderator, dan menghadirkan narasumber luar biasa, Ibu Aam Nurhasanah. Judul materi malam itu sederhana, namun terasa dalam: *Gali Potensi, Ukir P...

Menjahit Ragu Menjadi Aksara: Catatan Hangat dari Grup WhatsApp yang Tak Pernah Sepi Makna

Gambar
 Resume kegiatan KBMN  Oleh : Anis Solihah, M. Pd Hari kedua Episode ke 34 Jam 19.0) - 21.00 Melalui group whatsapp  Menjahit Ragu Menjadi Aksara  Catatan Hangat dari Grup WhatsApp yang tak Pernah Sepi Makna Grup WhatsApp itu kembali ramai seperti pasar pagi yang penuh warna, hanya saja dagangannya bukan sayur melainkan kata-kata. Notifikasi berbunyi seperti ketukan kecil yang mengajak saya duduk rapi, meski posisi sebenarnya masih selonjoran.  Pelatihan menulis KBMN hari itu terasa berbeda, mungkin karena hati saya sedang ingin diajak berdamai. Ibu Raliyanti membuka ruang belajar dengan gaya yang ringan, seperti sedang mengajak ngobrol di teras rumah. Sementara Widya Arema sebagai moderator menjadi penyeimbang, seperti teh hangat yang tidak terlalu manis namun selalu pas. Saya membaca setiap pesan dengan pelan, takut ada makna yang terselip dan terlewat begitu saja.  Kadang saya tersenyum sendiri, kadang juga mengernyit karena merasa “ini kok saya banget ...

Hari pertamaku di KBMN 34

Gambar
RESUME KEGIATAN HARI PERTAMA KBMN PGRI GELOMBANG 34 Hari/Tanggal: Senin, 20 April 2026 Waktu: 19.00 – 21.00 WIB Narasumber: Bunda Kanjeng Moderator: Ibu Helwiyah Materi: Writing is My Passion Penulis : Anis Solihah Sebagai guru kelas 1 di SPPI yang mengikuti kegiatan workshop menulis KBMN, saya merasakan bahwa kegiatan hari pertama ini berlangsung dengan sangat inspiratif dan membangun semangat. Narasumber, Bunda Kanjeng, menyampaikan bahwa untuk menjaga konsistensi dan fokus dalam menulis, seorang penulis sebaiknya aktif bergabung dalam berbagai komunitas menulis. Lingkungan yang positif akan membantu menjaga semangat sekaligus meningkatkan produktivitas dalam berkarya. Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya membangun mindset bahwa menulis bukan sekadar aktivitas biasa, tetapi juga dapat menjadi ladang amal jariyah. Tulisan yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya. Peserta juga diajak untuk belajar dari penulis hebat seperti J.K. Rowling, Andrea Hirata, dan Pramoedya Anant...

Kembali

Pukul 10.12 gawaiku bergetar. Getaran kecil itu terasa lebih keras dari biasanya, seolah mengetuk sesuatu di dadaku yang sudah lama terkunci. Aku tahu ada pesan masuk. Aku tidak langsung membukanya. Duniaku dengan teman kecilku belum selesai di kelas. Aku melirik layar. Ah, Meri… kesayangan. Nama itu membawa banyak kenangan. Tentang tawa yang dulu sering kita bagi, tentang jarak yang perlahan tumbuh tanpa kita sadari, tentang diam yang terlalu lama kita biarkan. Ada apa ya? Tak lama kemudian, Meri meminta bertemu. Hari ini hari kerja. Aku tahu betul ritme hidupnya sekarang pekerjaan, pasangan, buah hati, dan segala tanggung jawab yang membuat waktu menjadi barang mahal. Dulu saja, saat hidupnya belum seramai ini, jika ingin bertemu waktu lepas magrib yang menjadi rutinas kami bertemu Tak pernah siang. Tak pernah mendadak. Maka ajakan hari ini membuatku terdiam. Pesan WhatsApp itu menjelaskan semuanya. Ia tak jadi bekerja. Banjir memaksanya berbalik arah. Dan di sela kejadian yang merep...

TERSANGKA TANPA WAJAH

Dia datang tanpa salam. Menyusup pelan, lalu menetap dengan percaya diri di ruang kelasku. Bagi sebagian orang, mungkin ia aroma yang menggoda selera. Namun bagiku, ia adalah tamu tak tahu diri, menyengat, menekan, dan perlahan menggerogoti fokus. Murid-murid pun kerap bertanya polos, “Bu, ini bau apa?” Awalnya aku menjawab dengan antusias. Mereka tertawa kecil, aku ikut tersenyum. Seolah ini hanya gangguan remeh yang bisa ditertawakan bersama. Tapi hari demi hari, bau itu kian rajin hadir. Tanpa permisi. Tanpa jadwal. Dan yang paling menyebalkan, tanpa rasa bersalah. Ia menyesakkan otakku. Hingga suatu hari, pertanyaan yang sama kembali meluncur dari mulut mungil teman kecilku. Kali ini jawabanku terdengar sinis. Bukan karena aku marah pada mereka tidak pernah. Tapi karena amarahku sudah penuh, dan sasaran amarah itu tak kunjung menampakkan wujud. Jengkol. Ya, jengkol ditetapkan sebagai tersangka utama. Kupikir ini ulah pedagang jengkol di samping sekolah. Petugas keamanan pun menguat...

Cerita Pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti: Belajar Rukun di Dalam Keluarga Senin 19 Januari 2026 Kelas 1C SDN TANGERANG 3

Pagi ini pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti dimulai dengan suasana tenang. Anak-anak duduk *tertib di tempat duduk masing-masing*, buku bacaan terbuka rapi di atas meja. Sebelumnya beberapa siswa membantuku  membagikan buku bacaan budi pekerti milik sekolah untuk setiap anak untuk di baca “Anak-anak,” kataku lembut, “hari ini kita belajar tentang *kerukunan di dalam keluarga*. Kita akan membaca bersama dengan tertib dan saling menghargai.” Aku mulai membaca perlahan. Anak-anak menirukan dari tempat duduk mereka masing-masing. Di *bangku paling depan*, Harry siswaku yang istimewa, duduk dengan tenang. Aku berada di sampingnya. Tanganku menggenggam *jari-jari tangan Harry*, satu per satu, sambil menunjuk huruf-huruf pada buku bacaan. “Ke… lu… ar… ga…” Aku melafalkan perlahan. Harri menatap huruf yang kutunjuk, berusaha mengikuti dengan caranya sendiri. Sesekali, *tatapanku mengarah ke sudut lain kelas*, kepada satu lagi siswa istimewaku. Aini Ada harapan kecil di dalam hati: *semog...

Akhir Tahun Yang Berbeda

Akhir tahun 2025 kembali menjadi waktu berkumpul bagi keluarga besar kami. Sebuah rutinitas yang selalu dinanti, tempat tawa, cerita lama, dan pelukan hangat saling bertemu. Namun, kali ini terasa berbeda. Ada ruang kosong yang tak bisa diisi oleh apa pun. Kami berkumpul di Cibinong, di rumah Rafari dan Gama Keponakan-keponakanku. Bukan di tempat yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Bukan pula dengan susunan keluarga yang lengkap. Oming tak lagi duduk di sisi kami. Sosok yang biasanya menjadi pusat kehangatan itu kini hanya hadir dalam kenangan. Sementara Daeng aji, orang yang selama ini menjadi sandaran kami, harus terbaring di salah satu rumah sakit terbaik di Kota Cibinong. Dengan kendaraan listrik mungil, kami melaju dari hiruk-pikuk kota metropolitan menuju Cibinong. Sepanjang perjalanan, jalanan ramai oleh semangat akhir tahun. Kendaraan berlalu-lalang menuju Puncak Bogor, membawa harapan, liburan, dan kebahagiaan masing-masing. Di balik keramaian itu, hati kami melaju denga...