TERSANGKA TANPA WAJAH
Dia datang tanpa salam. Menyusup pelan, lalu menetap dengan percaya diri di ruang kelasku. Bagi sebagian orang, mungkin ia aroma yang menggoda selera. Namun bagiku, ia adalah tamu tak tahu diri, menyengat, menekan, dan perlahan menggerogoti fokus. Murid-murid pun kerap bertanya polos, “Bu, ini bau apa?” Awalnya aku menjawab dengan antusias. Mereka tertawa kecil, aku ikut tersenyum. Seolah ini hanya gangguan remeh yang bisa ditertawakan bersama. Tapi hari demi hari, bau itu kian rajin hadir. Tanpa permisi. Tanpa jadwal. Dan yang paling menyebalkan, tanpa rasa bersalah. Ia menyesakkan otakku. Hingga suatu hari, pertanyaan yang sama kembali meluncur dari mulut mungil teman kecilku. Kali ini jawabanku terdengar sinis. Bukan karena aku marah pada mereka tidak pernah. Tapi karena amarahku sudah penuh, dan sasaran amarah itu tak kunjung menampakkan wujud. Jengkol. Ya, jengkol ditetapkan sebagai tersangka utama. Kupikir ini ulah pedagang jengkol di samping sekolah. Petugas keamanan pun menguat...