Kembali
Pukul 10.12 gawaiku bergetar. Getaran kecil itu terasa lebih keras dari biasanya, seolah mengetuk sesuatu di dadaku yang sudah lama terkunci. Aku tahu ada pesan masuk. Aku tidak langsung membukanya. Duniaku dengan teman kecilku belum selesai di kelas. Aku melirik layar. Ah, Meri… kesayangan. Nama itu membawa banyak kenangan. Tentang tawa yang dulu sering kita bagi, tentang jarak yang perlahan tumbuh tanpa kita sadari, tentang diam yang terlalu lama kita biarkan. Ada apa ya? Tak lama kemudian, Meri meminta bertemu. Hari ini hari kerja. Aku tahu betul ritme hidupnya sekarang pekerjaan, pasangan, buah hati, dan segala tanggung jawab yang membuat waktu menjadi barang mahal. Dulu saja, saat hidupnya belum seramai ini, jika ingin bertemu waktu lepas magrib yang menjadi rutinas kami bertemu Tak pernah siang. Tak pernah mendadak. Maka ajakan hari ini membuatku terdiam. Pesan WhatsApp itu menjelaskan semuanya. Ia tak jadi bekerja. Banjir memaksanya berbalik arah. Dan di sela kejadian yang merep...