AI dan saya


Resume hari ke-enam KBMN 

Pada pertemuan ke-6 KBMN, materi yang disampaikan membahas rambu-rambu penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam menulis. Sebagai seorang guru yang masih dalam tahap meraba dan memahami sejauh mana AI dapat dekat dengan “jiwa” dalam proses menulis, materi ini terasa relevan sekaligus menggugah.


AI dipaparkan sebagai alat bantu yang mampu mempercepat proses menulis, mulai dari mencari ide, menyusun kerangka, hingga mengembangkan tulisan. Namun, di balik kemudahannya, terdapat batas etis yang perlu dijaga, terutama terkait kejujuran dan orisinalitas. AI tidak seharusnya menggantikan suara pribadi penulis, melainkan menjadi pendamping yang membantu memperjelas gagasan.

Pertanyaan yang muncul dalam diskusi juga memperkuat refleksi bahwa penggunaan AI harus memiliki batas yang jelas. Dalam dunia akademik dan jurnalistik, transparansi menjadi kunci agar karya tetap dapat dipertanggungjawabkan.


 Sementara itu, di tengah perkembangan teknologi, kemampuan menulis manusia tidak akan hilang, tetapi justru ditantang untuk berkembang.


Sebagai guru yang sedang belajar memahami AI, muncul kesadaran bahwa kedekatan dengan teknologi ini bukan sekadar soal bisa menggunakan, tetapi bagaimana tetap menjaga “rasa” dalam tulisan. Keterampilan seperti berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan mengolah pengalaman pribadi menjadi hal yang tidak tergantikan oleh AI.


Dengan demikian, AI bukanlah ancaman, melainkan ruang baru untuk bertumbuh. Kedekatan antara AI dan diri penulis akan terbentuk ketika mampu menempatkannya secara bijak: sebagai alat, bukan sebagai pengganti jiwa dalam menulis.


Harapannya, melalui pertemuan malam ini dengan tema penggunaan AI dalam menulis, mampu menjadi titik awal untuk mendobrak rasa malas yang selama ini sering muncul saat ingin mulai menulis. 

Materi yang disampaikan seakan memberi dorongan bahwa menulis tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang sempurna, tetapi bisa dimulai dari langkah kecil, bahkan dari bantuan AI sebagai pemantik ide.

Kesadaran ini menghadirkan semangat baru bahwa menulis bukan lagi aktivitas yang terasa berat dan membebani, melainkan proses yang bisa dinikmati secara bertahap. AI dapat menjadi “teman diskusi” yang membantu membuka jalan ketika pikiran terasa buntu, namun tetap diri sendirilah yang memberi makna dan rasa dalam setiap tulisan.

Dengan semangat tersebut, muncul harapan untuk lebih konsisten berlatih menulis, berani menuangkan gagasan, serta tidak lagi terlalu lama terjebak dalam keraguan. 


Pertemuan ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk memulai, karena sejatinya, tulisan yang baik lahir dari kemauan untuk terus mencoba, bukan dari menunggu sempurna

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir Tahun Yang Berbeda

Cerita Pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti: Belajar Rukun di Dalam Keluarga Senin 19 Januari 2026 Kelas 1C SDN TANGERANG 3

Menjahit Ragu Menjadi Aksara: Catatan Hangat dari Grup WhatsApp yang Tak Pernah Sepi Makna