Dari Tumbuh Menjadi Bertumbuh
Resume KBMN Hari ke-7
Malam itu, saya seperti sedang bercermin. Materi tentang writer’s block bukan sekadar teori, tapi potret nyata dari diri saya sendiri yang sering membuka laptop dengan niat menulis, namun berakhir menatap layar kosong, bahkan terkadang malah larut membaca tulisan orang lain dan merasa semakin kecil.
Saya sadar, selama ini saya bukan kehabisan ide. Justru sebaliknya terlalu banyak ide, tapi semuanya berhenti di kepala. Seolah ada “pipa” yang tersumbat, membuat kata-kata enggan mengalir ke jemari.
Dari pemaparan Bapak Muliadi, saya seperti ditegur dengan lembut, bahwa penyebab writer’s block seringkali bukan karena tidak mampu, tapi karena:
a. Takut tulisan jelek
b. erlalu banyak berpikir
c. Menunggu mood datang
d. Membandingkan diri dengan penulis lain
Dan di titik itu, saya tersadar… mungkin selama ini saya terlalu keras pada diri sendiri. Saya ingin tulisan yang langsung indah, langsung sempurna. Padahal, saya bahkan belum memberi kesempatan pada diri saya untuk “menulis dengan bebas”.
Satu kalimat yang paling menampar saya adalah:
“Tulisan buruk masih bisa diperbaiki, tapi kertas kosong tidak bisa diapa-apakan.”
Selama ini, saya terlalu sibuk mengedit sebelum benar-benar menulis.
Terlalu cepat menghapus, terlalu sering meragukan. Akibatnya, tulisan tidak pernah benar-benar lahir.
Saya juga merasa “haus kosakata”. Ketika membaca tulisan orang lain yang begitu indah, saya justru terjebak dalam rasa tidak percaya diri. Seolah-olah saya tidak akan pernah mampu merangkai kata menjadi simfoni kalimat yang menyentuh rasa.
Namun malam itu saya belajar satu hal penting yaitu, menulis bukan tentang menjadi orang lain, tapi tentang menjadi diri sendiri yang jujur dalam aksara.
Ada beberapa “ramuan” sederhana yang terasa sangat membumi dan bisa langsung saya praktikkan:
1. Menulis saja dulu, tanpa takut salah
2. Tidak mengedit di awal
3. Menggunakan teknik 10 menit untuk memulai
4. Menulis dari hal paling sederhana
5. Konsisten meski hanya beberapa kalimat
Saya juga tersentuh dengan konsep “tumpahkan saja”. Bahwa ide tidak harus langsung rapi. Boleh berantakan, boleh berupa poin, boleh tidak indah yang penting keluar dulu.
Bagi saya pribadi, ini seperti membuka pintu yang selama ini saya kunci sendiri.
Saya juga belajar membedakan antara writer’s block dan burnout. Jika lelah, maka istirahat. Jika buntu, maka tetap bergerak meski pelan.
Yang paling menguatkan adalah pada pesan penutupnya yaitu
Bahwa penulis bukan diukur dari pujian, tapi dari kemampuannya bangkit setelah jatuh.
Dan saya merasa… saya belum kalah. Saya hanya sempat berhenti.
Malam ini, saya ingin memulai kembali.
Tidak dengan tulisan yang sempurna,
tapi dengan keberanian untuk menulis apa adanya.
Karena mungkin, dari kata-kata sederhana itu, perlahan akan lahir alunan simfoni yang selama ini saya rindukan.

Alhamdilillah resum3nya semakin 3nak dibaca dan semoga kelak m3nj3lma menjadi buku yg bermutu
BalasHapus