Saat Diksi Mengetuk Kenangan
Resume Hari kedelapan
Resume ini kutulis saat langit perlahan kehilangan gelapnya. Menjelang fajar, ketika jalanan mulai lengang dan udara dini hari terasa lebih sunyi dari biasanya, ingatan tentang pertemuan KBMN Gelombang 34 malam tadi masih begitu hidup di kepala saya.
Resume ini kutulis saat langit perlahan kehilangan gelapnya. Menjelang fajar, ketika jalanan mulai lengang dan udara dini hari terasa lebih sunyi dari biasanya, ingatan tentang pertemuan KBMN Gelombang 34 malam tadi masih begitu hidup di kepala saya.
Malam itu terasa berbeda. Saya mengikuti Zoom sambil duduk di belakang setir, mengemudikan si unyil roda empat bersama sahabat terbaik sepulang menjenguk Abah, ayahanda dari motivator kami tercinta. Perjalanan yang seharusnya melelahkan justru terasa hangat karena telinga terus ditemani suara-suara penuh makna dari ruang belajar KBMN.
Tema “Diksi dan Seni Bahasa” benar-benar membuat perjalanan malam terasa lebih syahdu. Kali ini telinga dimanjakan oleh lantunan kata-kata yang terpilih menjadi sesuatu yang sangat indah dan mengasyikkan. Kami dibuat terlena dengan apa yang disampaikan oleh pemateri maupun para peserta yang bertanya.
Bahkan di tengah perjalanan dan lampu-lampu jalan yang menemani, setiap kalimat terasa mengetuk hati dengan cara yang begitu sederhana namun mendalam. Kali ini telinga dimanjakan oleh lantunan kata-kata yang terpilih menjadi sesuatu yang sangat indah dan mengasyikkan. Kita dibuat terlena dengan apa yang disampaikan oleh pemateri maupun para peserta yang bertanya.
Setiap kalimat yang meluncur terasa hidup, memiliki rasa, dan mampu mengetuk ruang-ruang kecil dalam hati. Moderator yang handal membersamai narasumber yang hebat membuat suasana diskusi mengalir begitu nyaman dan penuh makna.
Materi tentang diksi membuka kembali pemahaman saya bahwa menulis bukan hanya menyusun kata menjadi kalimat, melainkan bagaimana memilih kata yang tepat agar tulisan mampu berbicara kepada pembaca.
Ada rasa, ada emosi, ada imajinasi yang tumbuh dari pilihan kata yang sederhana namun ditempatkan dengan penuh seni.
Semakin lama mengikuti kegiatan ini, semakin saya tergugah untuk membuat tulisan menjadi lebih indah. Saya seperti diingatkan kembali pada masa lalu, ketika puisi-puisi kecil saya pernah tertoreh di sebuah majalah remaja saat masih duduk di bangku sekolah.
Kenangan itu tiba-tiba hadir kembali, membawa rasa haru sekaligus rindu pada dunia menulis yang dulu begitu dekat dengan hati saya.
Pertemuan malam itu menjadi pengingat bahwa kata-kata memiliki kekuatan luar biasa. Sebuah tulisan dapat menghidupkan kenangan, menyampaikan rasa, bahkan menggerakkan hati orang lain.
Saya merasa materi ini bukan hanya menambah ilmu, tetapi juga menyalakan kembali semangat untuk terus belajar menulis dengan lebih peka, lebih indah, dan lebih bermakna.
Di penghujung pertemuan, hati saya dipenuhi rasa syukur dan bangga karena dipertemukan dengan ruang belajar yang begitu hangat seperti KBMN Gelombang 34.
Di sini saya tidak hanya belajar merangkai kata, tetapi juga belajar memaknai perjalanan, mengenali diri, dan menumbuhkan kembali keberanian untuk menulis. Rasanya menyenangkan berada di tengah orang-orang hebat yang saling menguatkan melalui aksara.
Terima kasih untuk para narasumber yang telah berbagi ilmu dengan tulus, juga kepada moderator yang begitu sabar membersamai jalannya diskusi. Terima kasih pula kepada seluruh peserta KBMN 34 yang menghadirkan suasana belajar penuh semangat dan inspirasi.
Dari setiap pertemuan, saya belajar bahwa menulis bukan tentang siapa yang paling hebat, melainkan siapa yang terus mau bertumbuh.
Malam itu saya pulang dengan membawa harapan baru. Harapan agar langkah kecil ini tidak berhenti di tengah jalan. Harapan agar jemari ini tetap setia menari di atas keyboard, melahirkan tulisan-tulisan yang kelak dapat bermanfaat dan menginspirasi.
Di Antara Diksi dan Rindu Menulis
Di ruang maya kita bersua
Merangkai mimpi lewat aksara
Saling menyapa dalam kata
Menghidupkan semangat yang sempat redup adanya
KBMN bukan sekadar nama
Ia tumbuh menjadi rumah jiwa
Tempat belajar tanpa cela
Tempat hati kembali percaya
Terima kasih untuk cahaya
Yang hadir di setiap cerita
Membimbing langkah para pemula
Menjadi penulis penuh makna
Biarlah jemari terus menulis
Walau kadang ragu menepis
Karena dari setiap baris
Ada harapan yang tak ingin habis
Bangga kini menjadi bagian
Dari keluarga penuh impian
KBMN Gelombang Tiga Puluh Empat
Semoga tetap abadi dalam ingatan.

Luar biasa tulosannya dan enak dibaca diksinya
BalasHapus