TERSANGKA TANPA WAJAH
Dia datang tanpa salam.
Menyusup pelan, lalu menetap dengan percaya diri di ruang kelasku.
Bagi sebagian orang, mungkin ia aroma yang menggoda selera. Namun bagiku, ia adalah tamu tak tahu diri, menyengat, menekan, dan perlahan menggerogoti fokus. Murid-murid pun kerap bertanya polos,
“Bu, ini bau apa?”
Awalnya aku menjawab dengan antusias. Mereka tertawa kecil, aku ikut tersenyum. Seolah ini hanya gangguan remeh yang bisa ditertawakan bersama. Tapi hari demi hari, bau itu kian rajin hadir. Tanpa permisi. Tanpa jadwal. Dan yang paling menyebalkan, tanpa rasa bersalah.
Ia menyesakkan otakku.
Hingga suatu hari, pertanyaan yang sama kembali meluncur dari mulut mungil teman kecilku. Kali ini jawabanku terdengar sinis. Bukan karena aku marah pada mereka tidak pernah. Tapi karena amarahku sudah penuh, dan sasaran amarah itu tak kunjung menampakkan wujud.
Jengkol.
Ya, jengkol ditetapkan sebagai tersangka utama.
Kupikir ini ulah pedagang jengkol di samping sekolah. Petugas keamanan pun menguatkan dugaan itu.
“Pedagang jengkol, Bu. Air bekas cucinya dibuang ke selokan sekolah.”
Aku mengangguk. Masuk akal. Aku percaya.
Tapi semakin kupikirkan, semakin ada yang ganjil. Bau ini… terlalu dahsyat. Terlalu setia. Jika sekolahku berdampingan dengan pasar jengkol pasar yang menjadikan jengkol sebagai komoditas utama di pasar itu, mungkin aku bisa memaklumi. Tapi ini bukan pasar jengkol, Ini pasar umur yang dekat dengan sekolahku.
Sekolahku, Tempat anak-anak belajar membaca, berhitung, dan bermimpi. Bukan belajar menahan napas.
Kegundahanku ini pernah kusampaikan kepada kepala sekolah lama, tepat sebelum masa pensiunnya. Sayangnya, waktu itu solusi tak sempat mampir. Bau masih bertahan, aku masih bertahan sama-sama keras kepala.
Kini kepala sekolah baru baru saja bertugas. Beberapa hari saja. Dan aku masih menimbang: haruskah kegelisahan ini kembali diungkapkan? Atau kutunggu hingga bau itu naik pangkat dari tamu menjadi penghuni tetap?
Dalam keputusasaan yang sunyi, aku bahkan mulai “mengulik” media sosial para pemangku jabatan di kotaku. Bukan untuk sensasi, bukan untuk mengganggu. Hanya ingin satu kesempatan: menyampaikan keresahanku.
Namun kekhawatiran itu datang.
Jika nanti ada yang bertanya,
“Siapa tersangkanya?”
Aku harus menjawab apa?
Tersangka ini tak berwujud. Ia datang sesukanya, pergi tanpa jejak. Tak bisa difoto, tak bisa ditangkap. Hanya bisa dikenali oleh hidungku dan dampaknya langsung menyerang hati serta otak.
Lalu bagaimana cara menangkapnya?
Bagaimana menertibkan sesuatu yang bahkan tak bisa disuruh absen?
Yang jelas, ia masih ada.
Rajin.
Setia.
Dan entah sampai kapan akan terus menguji kesabaranku… dan hidung seluruh warga kelas
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih atas commentnya. Yuukk lihat postingan yang lain