Langkah awal Goes To Malang Bersama KBMN
Dua hari penuh persiapan mengantarkanku meninggalkan Kota Tangerang menuju Kota Malang, dengan segudang rasa yang tertinggal. Ada haru saat harus berpisah dari kebersamaan bersama para penggiat olahraga tradisional mereka yang berjuang bahu-membahu mendampingi para atlet di laga FORKOT I Kota Tangerang.
Perjalanan ini kutempuh demi sebuah memori berharga: pertemuan dengan para penulis hebat dari seluruh penjuru Indonesia di Kota Malang.
Diantar ke Stasiun Senen oleh suami tercinta, aku melangkah pergi dengan hati yang masih tertambat pada sahabat-sahabat PORTINA yang tengah berlaga. Setibanya di stasiun, dua sahabat terkasih Bunda Tini dan Bu Yulia telah menanti. Kami berjanji bertemu di sebuah rumah makan siap saji, ditemani pula seorang pemuda Tampan yang penuh suka cita membersamai kami.
Riuh suasana stasiun di masa liburan terasa begitu hidup. Di tengah keramaian itu, kami menaiki kereta ekonomi yang akan membawa kami menuju Kota Malang. Sepanjang perjalanan, tawa dan cerita lucu mengalir begitu saja, terpatri menjadi kenangan kisah-kisah yang kelak layak diceritakan di episode selanjutnya.
Pukul dua dini hari, kami tiba di Kota Malang. Dengan mobil sewaan yang dipesan secara daring, perjalanan dilanjutkan menuju tempat berkumpulnya para penulis BBGTK Provinsi Jawa Timur. Meski malam masih menyelimuti, kemegahan tempat itu tetap terasa.
Akhirnya, setelah membersihkan diri, tubuh ini pun berlabuh di peraduan yang nyaman menutup hari panjang dengan rasa syukur dan harapan akan cerita-cerita indah yang menanti esok hari
Pagi di Kota Malang menyapaku dengan udara sejuk yang langsung membangkitkan kenangan. Menyusuri tiap sudut kotanya serasa membuka kembali lembaran masa kecil saat pertama kali kakiku yang kecil ini menapaki bumi Malang. Jalanan, pepohonan, bahkan aroma pagi membawa ingatan pada tawa polos dan langkah-langkah sederhana yang pernah ada.
Kota ini seakan tak banyak ber mata yang berbeda. Dulu aku datang sebagai seorang anak kecil dengan mimpi-mimpi sederhana; kini aku kembali sebagai pribadi yang telah ditempa waktu, membawa cerita, pengalaman, dan harapan baru. Malang menjadi saksi bisu perjalanan itu tentang pulang, tentang tumbuh, dan tentang mengenang diri sendiri di masa lalu.
Setiap langkah adalah pertemuan: antara masa lalu dan masa kini, antara kenangan dan kenyataan. Dan di kota ini, aku kembali belajar bahwa perjalanan sejatinya bukan hanya tentang tempat yang dituju, melainkan tentang siapa diri kita saat melangkah dan apa yang kita bawa pulang dalam hati.
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih atas commentnya. Yuukk lihat postingan yang lain