Dari Dongeng ke Makna: Catatan Sunyi di Hari Kelima KBMN
Resume Hari kelima KBMN PGRI Gelombang 34
Kegiatan KBMN ini kembali menjadi ruang belajar yang tidak sekadar lewat, tetapi menetap diam-diam di hati. Rabu, 29 April 2026, saya hadir bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai pembelajar yang sedang mencari jalan pulang.
Pulang pada mimpi lama: menulis dengan makna.
Tema “Membuat Dongeng dan Cerita Anak” terasa sederhana di permukaan, namun dalam di kedalaman. Bersama Ibu Helwiyah sebagai narasumber dan Ibu Dyah Kusumaningrum sebagai moderator, suasana belajar mengalir hangat.
Tidak menggurui, tapi mengajak. Tidak menekan, tapi menumbuhkan.
Saya diajak kembali memahami bahwa dongeng adalah dunia imajinasi yang liar namun terarah,
Sementara cerita anak bisa jadi cermin kehidupan sehari-hari yang dekat dengan napas anak-anak.
Keduanya berbeda jalan, tetapi bertemu pada satu tujuan yakni menyampaikan pesan moral dengan cara yang lembut dan membekas.
Di titik ini, saya seperti diingatkan kembali tentang peran kecil yang sering dianggap sepele.
Membacakan dongeng. Namun justru di sanalah letak kekuatan besar itu. Ketika literasi dikenalkan sejak dini melalui dongeng, ternyata bukan hanya cerita yang sampai, tetapi juga imajinasi yang tumbuh, dan perbendaharaan kata yang perlahan mengakar.
Anak tidak hanya mendengar, tetapi menyerap dunia.
Materi tentang struktur cerita pun menjadi penguat langkah. Bahwa menulis bukan sekadar mengalirkan kata, tetapi juga menyusun alur
Berawal dari pendahuluan, konflik, klimaks, hingga penyelesaian dan pesan moral.
Ada rapi di balik yang terlihat sederhana.
Teknik menulis yang disampaikan terasa membumi. Kata-kata tiruan bunyi seperti “gubrak” atau “prang” ternyata bukan sekadar hiasan, tetapi jembatan agar anak bisa merasakan cerita.
Dialog yang tidak bertele-tele, bahasa yang sederhana, semuanya seperti mengingatkan saya bahwa menulis untuk anak adalah tentang menyederhanakan tanpa menghilangkan makna.
Pada sesi praktik, saya kembali diuji. Menulis dengan tema kejujuran, tanggung jawab, persahabatan, atau disiplin bukan hanya soal memilih kata, tetapi soal keberanian menuangkan rasa.
Meskipun saya tidak mempraktikkan langsung di group.
Di sinilah saya sadar, menulis bukan perkara bisa atau tidak, tetapi mau atau tidak.
Tips dari narasumber menjadi pengingat yang halus namun kuat.
Menulis perlu kerangka, perlu arah. Teknologi seperti AI boleh digunakan, tetapi jangan sampai menggantikan rasa. Karena sejatinya, tulisan yang sampai ke hati adalah tulisan yang lahir dari hati.
Dan di akhir sesi, saya menemukan satu hal yang paling membekas: bahwa dongeng bukan sekadar cerita pengantar tidur.
Ia adalah jembatan nilai, penguat karakter, dan ruang tumbuh bagi imajinasi anak. Sebagai guru, saya tidak hanya mengajar huruf dan kata, tetapi juga bisa menanamkan kehidupan melalui cerita.
Malam itu, saya tidak banyak berbicara di grup. Saya tetap menjadi reader sejati, menikmati setiap alur diskusi yang bergulir. Namun diam saya bukan kosong, justru penuh.
Penuh dengan renungan, harapan, dan sedikit keberanian yang mulai tumbuh.
Barangkali, ini bukan akhir dari belajar menulis. Ini baru awal saya berdamai dengan mimpi: bahwa suatu hari, saya tidak hanya membaca cerita… tetapi juga melahirkannya.

Keren Bu Anis...tulisannya penuh rasa
BalasHapusMantap resumenua dan terima kasih sudah menuliskannya dengan baik
BalasHapusTerima kasih infonya Bu
BalasHapus