Gali Potensi, Ukir Harapan yang Lama Tertunda
Hari ketiga
kegiatan KBMN PGRI Gelombang 34, saya Narasumber luar biasa Ibu Aam Nurhasanah, dan dipandu oleh moderator Ibu Eka.
Judul materi Gali Potensi Ukir Prestasi
Malam itu, saya kembali membuka layar ponsel dengan perasaan yang berbeda. Ada harap yang diam-diam saya rawat, meski sering kali terasa jauh dari jangkauan.
Saya, seorang pemerhati yang mencintai dunia tulis menulis, masih berdiri di titik yang sama belum pernah melahirkan satu pun buku solo. Rasanya seperti memiliki mimpi besar, tetapi kaki enggan melangkah karena takut tersandung keraguan sendiri. Itulah yang membawa saya bertahan di perjalanan panjang bersama KBMN.
Hari ketiga KBMN PGRI Gelombang 34 menjadi salah satu malam yang tidak ingin saya lewatkan begitu saja. Dengan penuh semangat, saya mengikuti sesi yang dipandu oleh Ibu Eka Agisty sebagai moderator, dan menghadirkan narasumber luar biasa, Ibu Aam Nurhasanah. Judul materi malam itu sederhana, namun terasa dalam: *Gali Potensi, Ukir Prestasi*. Kalimat yang sekilas terdengar biasa, tetapi diam-diam mengetuk ruang hati yang selama ini saya kunci rapat.
Di tengah jalannya diskusi, saya menyadari satu hal tentang diri saya. Saya tidak banyak berinteraksi atau aktif berkomentar di dalam grup. Bukan karena tidak peduli, bukan pula karena tidak memahami. Justru sebaliknya, saya memilih diam karena sesungguhnya saya adalah seorang *reader sejati*. Saya menikmati setiap kalimat yang disampaikan, meresapi makna di baliknya, dan menyimpannya perlahan dalam ruang-ruang sunyi di kepala saya. Dari sanalah, saya belajar dengan cara yang mungkin tidak terlihat, tetapi terasa.
Saya mulai menyadari, mungkin selama ini bukan karena saya tidak mampu menulis, tetapi karena saya belum benar-benar menggali potensi diri. Seperti yang disampaikan oleh Ibu Aam, setiap individu memiliki potensi, baik bakat, minat, maupun kemampuan.
Namun potensi itu tidak akan pernah terlihat jika tidak digali dan diasah dengan kesungguhan. Kalimat itu terasa seperti cermin memantulkan kenyataan bahwa saya sering berhenti sebelum benar-benar mencoba.
“Gali potensi,” kata beliau, bukan sekadar menemukan apa yang kita bisa, tetapi berani mencoba, belajar, dan terus melatih diri. Saya tersenyum kecil.
Bukankah selama ini saya lebih sering menunggu rasa percaya diri datang, daripada menciptakannya melalui proses?
Lalu, bagian “ukir prestasi” membuat saya semakin terdiam. Kata *ukir* mengandung makna yang dalam tidak instan, penuh proses, butuh ketekunan, bahkan mungkin rasa sakit.
Saya seperti diingatkan, bahwa prestasi bukan sesuatu yang jatuh dari langit, melainkan sesuatu yang dibentuk perlahan, sedikit demi sedikit, seperti mengukir kayu menjadi karya indah.
Cerita perjalanan Ibu Aam semakin menguatkan hati saya. Beliau bukan sosok yang langsung berhasil. Pernah gagal di KBMN Gelombang 8, lalu bangkit kembali di Gelombang 12.
Dari sana, beliau mulai menata ulang semangatnya, mengikuti tantangan menulis, hingga akhirnya melahirkan buku antologi pertamanya bersama Ibu Kanjeng. Kisah itu terasa begitu dekat seolah berkata bahwa gagal bukan akhir, melainkan bagian dari proses menjadi lebih kuat.
Saya pun teringat pada buku antologi yang pernah saya miliki hasil pertemuan para penulis hebat di Malang.
Buku itu pernah menjadi penyemangat saya, meski kadang semangat itu naik turun seperti ombak. Namun malam itu, saya merasa seperti menemukan kembali bara yang hampir padam.
Ternyata, saya tidak sendirian dalam perjalanan ini. Banyak yang pernah ragu, banyak yang pernah gagal, tetapi mereka memilih untuk kembali bangkit.
Pelatihan malam itu bukan sekadar menambah wawasan, tetapi juga menyalakan kembali keyakinan dalam diri saya. Bahwa mimpi menulis buku solo bukanlah sesuatu yang mustahil. Ia hanya menunggu untuk diperjuangkan dengan lebih sungguh-sungguh.
Saya menutup sesi malam itu dengan satu tekad kecil, namun berarti: saya ingin mulai menulis, bukan menunggu sempurna.
Saya ingin menggali potensi yang selama ini terpendam, dan perlahan mengukir prestasi, sekecil apa pun itu.
Karena mungkin, perjalanan menjadi penulis bukan tentang siapa yang paling cepat menerbitkan buku, tetapi tentang siapa yang tidak berhenti berjalan.
Dan malam itu, saya memutuskan untuk kembali melangkah.

Semakin keren tulisannya
BalasHapusSemakin keren tulisannya
BalasHapusKeren
BalasHapusLuar biasa semoga berbuah hasil
BalasHapus