Ketika Literasi Menemukan Jalannya di Hati Saya


Resume KBMN 34 hari ke 4
Senin 27 April 2026
Pemateri : Bambang Purwanto, S. Kim., Gr, CPS,. CPPS., C. Ed., MEP

Moderator : Gina Dwi Septiani, S. Pd., M. pd


Menyimak materi KBMN malam ini , rasanya seperti membaca dua sisi cerita yang saling melengkapi. Di satu sisi, terpampang sosok Mr. Bams (Bambang Purwanto) lahir dari kota Bandung, meniti karier sejak 2008 sebagai guru, hingga kini menjadi penggerak literasi, penulis, dan narasumber di berbagai forum. 


Di sisi lain, ada poster kegiatan KBMN PGRI yang menjadi ruang pertemuan kami. Tempat di mana cerita itu tidak hanya dibaca, tetapi juga “dihidupkan”.


Ada pula sosok Ibu Gina yang menjadi moderator. Malam itu Ibu Gina bukan sekadar moderator melainkan jembatan hangat antara cerita dan rasa.

Cara Ibu Gina membuka ruang diskusi dengan santai, bahkan menyelipkan candaan tentang masa lalu bersama Pak Bambang, justru membuat suasana terasa begitu dekat. 

Tidak ada jarak antara narasumber dan peserta. Kami tidak merasa sedang “belajar” dalam arti yang kaku, tetapi seperti sedang duduk bersama, mendengar kisah yang jujur dan mengalir.

Yang paling saya rasakan, Ibu Gina mampu mengarahkan diskusi bukan hanya pada apa yang disampaikan, tetapi juga pada apa yang perlu kami renungkan. 

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul terasa sederhana, namun dalam. Seolah mengajak kami bercermin sudah sejauh mana literasi hadir dalam hidup kami, bukan hanya di kelas, tetapi juga di rumah.

Sebagai peserta, saya merasa “ditemani”. Ibu tidak mendominasi, tetapi juga tidak membiarkan ruang menjadi datar. Ada keseimbangan yang indah ntara memberi ruang pada narasumber dan menjaga ritme agar tetap hidup.

Dan jujur saja, candaan Ibu tentang “gagal mengulang kelas” justru menjadi pengingat yang ringan namun bermakna bahwa dalam proses belajar, tidak selalu harus sempurna. Ada ruang untuk jatuh, tertawa, dan bangkit kembali.

Saya melihat bahwa perjalanan literasi itu bukan sesuatu yang instan. Tahun demi tahun ditapaki. 2008 mulai mengajar, 2015 menjadi guru tetap, 2018 mengikuti PPG, hingga 2024 menjadi Guru Penggerak. Bahkan sampai 2026 masih terus berkarya sebagai penyusun modul. Ini menyadarkan saya bahwa menjadi pegiat literasi bukan tentang cepat atau lambat, tetapi tentang konsistensi yang dirawat dalam waktu panjang.

“Pegiat Literasi Masyarakat Melalui TBM” bukan sekadar judul, tetapi benar-benar tercermin dari perjalanan hidup narasumbernya. Apa yang disampaikan malam itu bukan teori, melainkan praktik nyata. Dimulai dari rumah kecil, dari rak sederhana, dari niat yang tidak besar di awal, tetapi dijaga dengan sepenuh hati.
Saya seperti diingatkan kembali, bahwa literasi bukan hanya program, tapi perjuangan yang nyata.

Dari cerita Mr. Bams tentang TBM AS Lebakwangi, saya semakin percaya bahwa langkah kecil bisa berdampak besar. Rumah tanpa pagar, buku seadanya, tetapi penuh anak-anak yang datang membaca. 

Itu bukan sekadar aktivitas, tapi sebuah gerakan. Bahkan gambaran anak-anak yang “menjaga rumah” sambil membaca terasa begitu hidup dan membekas.

Namun, ketika saya menoleh ke dalam diri sendiri, saya dihadapkan pada kenyataan yang berbeda. Saya ingin sekali mengikuti jejak beliau. Saya ingin memiliki ruang literasi, menghadirkan suasana membaca yang hangat, dan menjadi bagian dari perubahan itu. Tapi perjalanan di rumah saya belum semulus yang saya bayangkan.

Mengajak suami dan anak-anak untuk senang berliterasi ternyata tidak mudah. Kadang semangat saya seperti berjalan sendiri. Buku sudah tersedia, niat sudah ada, tapi belum semua hati bisa diajak sejalan. 


Di titik ini, saya belajar satu hal penting dari kisah Mr. Bams bahwa literasi dimulai dari kesepahaman, bukan sekadar keinginan sepihak.

Namun, harapan itu tetap ada. Anak kedua saya menjadi cahaya kecil di tengah keraguan itu. Ia menunjukkan kecintaan yang tulus terhadap membaca, terutama saat ia lebih memilih menikmati novel Harry Potter daripada menonton filmnya. Bagi saya, itu bukan hal sepele. 


Itu tanda bahwa imajinasi sedang tumbuh, bahwa ia sedang “berdialog” dengan pikirannya sendiri. Saya melihat bagaimana ia bebas membayangkan tokoh Harry versi dirinya sendiri tanpa batas, tanpa disalahkan. 

Di situlah saya tersadar, bahwa literasi sejati memang memberi ruang kebebasan berpikir.

Malam itu, materi dari OmBam tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga menyentuh sisi terdalam saya. Ia tidak sekadar mengajarkan bagaimana membangun TBM, tetapi juga bagaimana mengelola niat, menjaga semangat, dan bertahan dalam proses panjang.

Dan jujur saja, dari semua yang saya dapatkan, ada satu hal yang paling menguat dalam diri saya. Saya ingin menjadi seseorang yang mampu “bermain kata-kata”. Bukan sekadar menulis, tetapi menghidupkan makna. Menyusun kalimat yang tidak hanya dibaca, tetapi juga dirasakan.

Mr. Bams telah menunjukkan bahwa menulis dan literasi bisa menjadi jalan hidup. Dan saya, meski masih tertatih di awal, ingin berjalan ke arah yang sama.

Mungkin saya belum memiliki TBM. Mungkin keluarga saya belum sepenuhnya berjalan bersama dalam literasi. Tapi saya percaya, seperti perjalanan yang tergambar dalam profil Mr. Bams—semua dimulai dari satu hal sederhana yaitu niat yang tidak pernah padam.

Dan malam itu, satu hal yang pasti niat saya semakin kuat.
Saya pun menutup hari dengan hati yang penuh. Bukan karena semua jawaban sudah saya temukan, tetapi karena saya tahu, saya sedang berada di jalan yang tepat. Jalan yang mungkin tidak mudah, tetapi penuh makna.

Dan siapa tahu, suatu hari nanti, dari rumah sederhana saya, akan lahir lentera kecil yang mampu menerangi dunia dimulai dari keluarga, lalu meluas ke sekitar, dan terus menyala tanpa henti.

Komentar

Posting Komentar

Terima kasih atas commentnya. Yuukk lihat postingan yang lain

Postingan populer dari blog ini

Akhir Tahun Yang Berbeda

Cerita Pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti: Belajar Rukun di Dalam Keluarga Senin 19 Januari 2026 Kelas 1C SDN TANGERANG 3

Menjahit Ragu Menjadi Aksara: Catatan Hangat dari Grup WhatsApp yang Tak Pernah Sepi Makna