Menjahit Ragu Menjadi Aksara: Catatan Hangat dari Grup WhatsApp yang Tak Pernah Sepi Makna

Resume kegiatan KBMN 
Oleh : Anis Solihah, M. Pd
Hari kedua
Episode ke 34
Jam 19.0) - 21.00
Melalui group whatsapp 

Menjahit Ragu Menjadi Aksara 

Catatan Hangat dari Grup WhatsApp yang tak Pernah Sepi Makna

Grup WhatsApp itu kembali ramai seperti pasar pagi yang penuh warna, hanya saja dagangannya bukan sayur melainkan kata-kata. Notifikasi berbunyi seperti ketukan kecil yang mengajak saya duduk rapi, meski posisi sebenarnya masih selonjoran. 


Pelatihan menulis KBMN hari itu terasa berbeda, mungkin karena hati saya sedang ingin diajak berdamai. Ibu Raliyanti membuka ruang belajar dengan gaya yang ringan, seperti sedang mengajak ngobrol di teras rumah. Sementara Widya Arema sebagai moderator menjadi penyeimbang, seperti teh hangat yang tidak terlalu manis namun selalu pas. Saya membaca setiap pesan dengan pelan, takut ada makna yang terselip dan terlewat begitu saja. 

Kadang saya tersenyum sendiri, kadang juga mengernyit karena merasa “ini kok saya banget ya.” Di situlah saya sadar, belajar menulis ternyata juga belajar memahami diri.


Pelatihan melalui WhatsApp memang terlihat sederhana, tapi justru di situlah keunikannya. Tidak ada tatap muka, tapi rasa kebersamaan tetap terasa hangat. Pesan demi pesan mengalir seperti air yang tidak pernah lelah mencari muara. Saya yang awalnya hanya membaca,

 perlahan mulai berani mengetik, meski sering dihapus lagi sebelum dikirim. Rasanya seperti sedang belajar berjalan di atas kata-kata sendiri. Setiap materi yang disampaikan terasa dekat, tidak menggurui, tapi mengajak. Ada ruang untuk berpikir, ada ruang untuk ragu, dan ternyata ragu itu tidak dilarang.

Saya mulai mengerti bahwa menulis bukan soal sempurna, tapi soal berani memulai. Dan saya, yang sering bersembunyi di balik diam, mulai merasa dipanggil untuk muncul.


Materi tentang menulis di blog membuka kembali lembar lama dalam ingatan saya. Seolah ada pintu yang diketuk pelan, mengingatkan masa ketika dunia sedang sempit karena pandemi. 


Saat itu, rumah menjadi segalanya, dan internet menjadi jendela kecil menuju luar. Saya teringat bagaimana dulu mencoba menulis, meski hanya untuk mengisi waktu yang terasa panjang. Ternyata, apa yang dulu saya lakukan tanpa sadar, kini menjadi bagian dari pembelajaran yang lebih terarah. 


Ada rasa haru yang diam-diam muncul, seperti menemukan kembali sesuatu yang pernah hilang. Saya tersenyum kecil, mungkin ini bukan kebetulan. Mungkin memang ada cerita yang belum selesai, dan kini diberi kesempatan untuk dilanjutkan. Blog bukan sekadar tempat menulis, tapi tempat saya menyimpan jejak hati.


Tugas menulis resume sebanyak 20 kali terasa seperti tantangan yang diam-diam menguji kesungguhan. Di satu sisi saya ingin, di sisi lain saya ragu. Pikiran saya sering berbisik, “memang kamu bisa?” dan saya sering mengangguk ragu. 

Namun di balik itu, ada suara kecil yang tidak mau kalah. Suara itu berkata pelan, “coba saja dulu.” Saya belajar bahwa rasa tidak mampu itu sering kali hanya tamu yang datang tanpa diundang. Dan kalau terus dilayani, ia akan merasa betah tinggal. 

Maka pelan-pelan saya mencoba tidak terlalu mendengarkan suara ragu itu. Saya memilih fokus pada langkah kecil, satu tulisan, satu keberanian. Dan ternyata, satu langkah kecil itu cukup untuk membuat saya tetap berjalan.


Percaya diri dalam menulis bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul begitu saja. Ia seperti tanaman yang perlu disiram, meski kadang lupa disiram juga masih bisa tumbuh. Saya sering merasa tulisan saya biasa saja, bahkan mungkin tidak layak dibaca. 

Tapi setiap kali saya hampir menyerah, selalu ada saja yang menguatkan. Entah itu komentar sederhana dari teman, atau sekadar perasaan lega setelah menulis. Saya mulai belajar bahwa tulisan bukan untuk dibandingkan, tapi untuk diungkapkan.

 Ada cerita yang hanya bisa keluar melalui tangan saya, bukan tangan orang lain. Dan jika saya tidak menuliskannya, mungkin cerita itu akan hilang begitu saja. Di situlah saya mulai memberi ruang pada diri sendiri untuk percaya. Tidak penuh, tapi cukup untuk melangkah lagi.


Kehadiran sahabat dalam perjalanan ini terasa seperti pelita kecil di jalan yang gelap. Mereka tidak selalu banyak bicara, tapi kehadirannya cukup untuk membuat saya tidak merasa sendiri. 

Kadang hanya dengan membaca tulisan mereka, saya sudah merasa terdorong. Ada semangat yang menular tanpa harus dipaksakan. Saya menyadari bahwa dalam belajar, kita tidak selalu butuh yang hebat, tapi yang tulus. Dan di grup itu, saya menemukan ketulusan yang sederhana. Mereka juga berproses, sama seperti saya.

 Tidak ada yang benar-benar sempurna, hanya ada yang terus mencoba. Dan dari situlah saya belajar, bahwa perjalanan ini bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang tetap bertahan.


Buku ontologi pertama saya menjadi saksi bisu dari keberanian yang dulu terasa mustahil. Saya masih ingat betapa ragu dan takutnya saat itu. Tapi ternyata, langkah kecil yang dipaksa itu justru membuka jalan yang lebih luas. Buku itu bukan hanya kumpulan tulisan, tapi juga kumpulan rasa. 


Setiap halaman menyimpan cerita tentang perjuangan melawan diri sendiri. Dan kini, setiap kali saya merasa tidak mampu, saya teringat buku itu. Seolah ia berkata, “kamu sudah pernah sampai di sini, kenapa sekarang ragu lagi?” Saya tersenyum sendiri, merasa seperti diingatkan oleh versi lama dari diri saya. Ternyata, kadang kita hanya perlu melihat ke belakang untuk bisa melangkah ke depan.


Materi tentang membuat dan menghias blog membawa saya kembali ke masa pandemi. Saat dunia terasa berhenti, justru di situlah saya mulai bergerak dalam diam. Saya belajar menata tulisan, memilih gambar, dan memberi warna pada blog sederhana saya.


 Tidak ada yang mewah, tapi cukup untuk membuat saya merasa hidup. Saya ingat bagaimana rasa takut keluar rumah membuat saya lebih banyak berbicara dengan diri sendiri. Dan dari percakapan itulah lahir tulisan-tulisan kecil. Blog menjadi tempat saya menyimpan semua itu. Seperti kotak kenangan yang bisa dibuka kapan saja. Dan kini, saya diajak kembali untuk menghidupkan ruang itu.


Pandemi memang membatasi langkah, tapi tidak membatasi pikiran. Saya belajar bahwa ilmu tidak selalu harus dicari keluar, kadang ia datang ketika kita diam di tempat. Ada hikmah yang tersembunyi di balik keterbatasan. Saya yang dulu sering merasa harus ke sana kemari untuk belajar, 

kini justru menemukan banyak hal dari dalam rumah. Blog menjadi saksi bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Justru di saat itulah kreativitas diuji. Saya mulai memahami bahwa menulis adalah cara saya bertahan. Cara saya tetap merasa terhubung dengan dunia. Dan mungkin, cara saya menyembuhkan diri.


Menulis di blog bagi saya bukan sekadar tugas, tapi kebutuhan. Ada hal-hal yang sulit diucapkan, tapi mudah dituliskan. Saya bisa jujur tanpa takut dihakimi. Saya bisa bercerita tanpa harus menjelaskan terlalu banyak. Blog menjadi ruang yang menerima saya apa adanya. Di sana, saya bebas menjadi diri sendiri. Tidak perlu terlihat hebat, cukup menjadi nyata. Dan dari situlah saya mulai mencintai proses menulis. Bukan karena hasilnya, tapi karena perjalanannya.


Namun, tidak bisa dipungkiri, ada rasa iri yang diam-diam muncul. Ketika saya mengunjungi blog peserta lain, saya terpukau sekaligus merasa kecil. Tulisan mereka indah, tertata rapi, dan terasa hidup. 

Saya sempat berpikir, kapan saya bisa seperti itu? Tapi kemudian saya sadar, setiap orang punya jalannya masing-masing. Mereka mungkin sudah lebih dulu berjalan, sementara saya baru mulai lagi. Dan itu tidak apa-apa. Iri itu saya ubah menjadi motivasi. Bukan untuk menyaingi, tapi untuk memperbaiki diri.


Saya mulai belajar menikmati proses tanpa terlalu memikirkan hasil. Setiap tulisan adalah latihan, bukan penilaian. Saya memberi izin pada diri sendiri untuk salah, untuk kurang, untuk belajar. Dan ternyata, dengan cara itu, menulis terasa lebih ringan. Tidak ada tekanan yang berlebihan. Saya bisa lebih jujur pada diri sendiri. Dan dari kejujuran itu, tulisan saya perlahan menemukan bentuknya.


Materi tentang resume mengingatkan saya pada pentingnya menangkap inti tanpa kehilangan makna. Menulis resume bukan sekadar menyalin, tapi memahami. Kita diajak untuk menyaring informasi, memilih yang penting, dan menyusunnya kembali. 

Ini bukan hal mudah, apalagi bagi saya yang sering merasa semua hal itu penting. Tapi di situlah tantangannya. Saya belajar untuk fokus, untuk memilah, dan untuk menyederhanakan. Ternyata, menulis singkat justru lebih sulit daripada panjang.


Saya mulai mencoba menulis resume dengan cara saya sendiri. Tidak terlalu kaku, tapi tetap berisi. Saya ingin tulisan saya tetap terasa hidup, meski hanya ringkasan. 

Saya bermain dengan kata, mencari cara agar makna tetap sampai. Kadang berhasil, kadang juga terasa kurang. Tapi saya tidak lagi terlalu keras pada diri sendiri. Saya menikmati setiap percobaan itu.

Di tengah proses ini, saya menemukan bahwa menulis juga tentang kejujuran. Kita tidak bisa menulis dengan baik jika tidak jujur pada apa yang kita pahami. Resume bukan tentang terlihat pintar, tapi tentang benar-benar mengerti. Dan itu membuat saya lebih berhati-hati dalam membaca materi. Saya tidak ingin sekadar lewat, tapi benar-benar menyerap.


Pelatihan ini perlahan mengubah cara pandang saya tentang menulis. Dulu saya menganggap menulis itu sulit dan menakutkan.


Sekarang, saya melihatnya sebagai proses yang menyenangkan, meski tetap menantang. Saya mulai merasa lebih dekat dengan kata-kata. Seperti menemukan teman baru yang ternyata sudah lama ada.


Saya juga mulai lebih peka terhadap hal-hal kecil di sekitar saya. Banyak hal yang dulu saya anggap biasa, ternyata bisa menjadi tulisan. Saya belajar bahwa inspirasi tidak selalu datang dari hal besar. Justru dari hal sederhana, kita bisa menemukan makna yang dalam. Dan itu membuat saya lebih menghargai setiap momen.


Dalam perjalanan ini, saya tidak lagi terlalu fokus pada penilaian orang lain. Saya lebih ingin menikmati proses saya sendiri. Jika ada yang membaca dan menyukai, itu bonus. Jika tidak, juga tidak masalah. Yang penting, saya terus menulis. Karena dari situlah saya belajar.


Saya sadar, perjalanan ini masih panjang. Masih banyak yang perlu saya pelajari. Tapi setidaknya, saya sudah melangkah. Dan itu sudah cukup membuat saya bangga. Tidak perlu besar, yang penting nyata.


Pelatihan KBMN ini bukan hanya tentang menulis, tapi tentang mengenal diri. Tentang berani mencoba, meski ragu. Tentang tetap berjalan, meski pelan. Dan saya bersyukur bisa menjadi bagian dari perjalanan ini.


Di akhir hari, saya menutup WhatsApp dengan perasaan yang berbeda. Bukan lagi ragu yang mendominasi, tapi harapan. Harapan bahwa saya bisa terus berkembang. Harapan bahwa tulisan saya suatu hari akan menemukan pembacanya.


Dan mungkin, di balik setiap kata yang saya tulis, ada pesan yang diam-diam tersampaikan. Bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk diri saya sendiri. Bahwa saya mampu, bahwa saya berharga, dan bahwa cerita saya layak untuk dituliskan.



Komentar

Posting Komentar

Terima kasih atas commentnya. Yuukk lihat postingan yang lain

Postingan populer dari blog ini

Akhir Tahun Yang Berbeda

Cerita Pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti: Belajar Rukun di Dalam Keluarga Senin 19 Januari 2026 Kelas 1C SDN TANGERANG 3