Dari RPP Menjadi Warisan Ilmu



Resume KBMN Hari kesembilan

Mengikuti kegiatan KBMN Gelombang 34 Pertemuan Ke-9 menjadi pengalaman yang begitu berkesan bagi saya sebagai seorang guru.


Tema yang diangkat, “Menyusun Bahan Ajar yang Tercerai Berai Menjadi Buku Pelajaran,” seakan menyadarkan saya tentang perjalanan panjang yang selama ini telah saya lalui dalam dunia pendidikan, khususnya ketika menyusun berbagai perangkat pembelajaran untuk kelas inklusi.

Sebagai guru, saya terbiasa membuat RPP, LKPD, bahan ajar, dan berbagai media pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Terlebih di kelas inklusi, setiap perangkat pembelajaran harus dibuat lebih rinci, lebih sederhana, dan lebih ramah agar semua anak dapat belajar sesuai kemampuan mereka. 

Selama ini saya menganggap semua itu hanyalah bagian dari tugas sehari-hari seorang guru. Setelah digunakan, file-file tersebut biasanya hanya tersimpan di laptop atau di dalam map tanpa pernah saya sadari nilainya.

Namun malam itu, saya seperti diajak melihat kembali perjalanan saya sendiri.

Saya teringat pada tahun 2018 ketika pertama kali mendapat amanah menjadi guru kelas 1. Saat itu saya begitu bersemangat menyusun program pembelajaran. 

Dengan penuh kesabaran saya menulisnya secara rinci menggunakan tulisan tangan. Setiap halaman saya tata dengan sungguh-sungguh,bahkan saya menambahkan dengan symbol gambar. kemudian saya jilid rapi hingga bentuknya menyerupai sebuah buku. 

Meskipun sederhana, saat itu saya merasa bahagia karena memiliki pegangan pembelajaran hasil karya sendiri.

Waktu terus berjalan. Ketika kemudian saya mendapat alih tugas menjadi guru kelas 4, tanpa sengaja saya kembali membuka program pembelajaran lama yang pernah saya buat itu. Saya membaca lembar demi lembar tulisan tangan tersebut dan tiba-tiba muncul rasa haru sekaligus bangga dalam diri saya. 


Saya tidak menyangka ternyata saya pernah membuat sesuatu dengan begitu tekun dan penuh cinta terhadap pekerjaan saya sebagai guru. Dalam hati saya berkata, “Ternyata saya bisa juga.”

Perasaan itulah yang kembali muncul ketika mengikuti materi dari Dyah Kusumaningrum. Narasumber menjelaskan bahwa banyak guru sebenarnya sudah memiliki “calon buku” tanpa disadari. RPP, LKPD, modul, diktat, hingga bahan presentasi yang selama ini dibuat ternyata merupakan serpihan-serpihan ilmu yang dapat dirangkai menjadi sebuah buku pelajaran yang utuh.

Penjelasan tersebut membuat saya semakin yakin bahwa karya guru sekecil apa pun sebenarnya sangat berharga. Apa yang kita tulis untuk membantu anak belajar bukan hanya sekadar administrasi, tetapi jejak pemikiran, kreativitas, dan pengabdian. Terlebih dalam pembelajaran inklusi, setiap LKPD dan bahan ajar lahir dari proses memahami karakter anak-anak yang berbeda-beda. Ada kesabaran di dalamnya, ada usaha untuk menyesuaikan pembelajaran, dan ada harapan agar semua anak dapat berkembang bersama.

Moderator Nur Dwi Yanti juga menyampaikan analogi yang begitu indah bahwa banyak guru memiliki “RPP yang manis dan LKPD yang cerdas,” tetapi semuanya masih hidup sendiri-sendiri seperti bintang tanpa rasi. Kalimat itu membuat saya tersenyum karena terasa sangat nyata. 

Selama ini karya-karya guru memang sering tercecer dan terlupakan, padahal jika dirangkai dapat menjadi sebuah adikarya bernama buku pelajaran.

Kegiatan ini memberikan pandangan baru bagi saya bahwa menulis buku bukanlah sesuatu yang mustahil. Buku tidak selalu lahir dari ide besar yang rumit. Buku bisa lahir dari pengalaman mengajar sehari-hari, dari catatan sederhana, dari LKPD yang dibuat dengan penuh kesabaran, bahkan dari tulisan tangan yang dahulu pernah dijilid sederhana seperti yang pernah saya lakukan di tahun 2018.

Kini saya mulai memahami bahwa setiap karya yang dibuat guru memiliki makna. Guru yang menulis sesungguhnya sedang meninggalkan jejak ilmu yang akan terus hidup. Dan malam itu saya merasa semakin percaya diri bahwa suatu hari nanti, bahan ajar yang selama ini saya susun untuk peserta didik, khususnya di kelas inklusi, dapat berkembang menjadi sebuah buku yang bermanfaat bagi lebih banyak orang.

Dari kegiatan KBMN ini saya belajar satu hal penting yaitu jangan pernah meremehkan karya sendiri, karena bisa jadi sesuatu yang sederhana hari ini akan menjadi kebanggaan besar di kemudian hari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir Tahun Yang Berbeda

Cerita Pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti: Belajar Rukun di Dalam Keluarga Senin 19 Januari 2026 Kelas 1C SDN TANGERANG 3

Saat Diksi Mengetuk Kenangan