Duka sahabat lama : Akhir kisah Sang Dalang



Pagi itu datang begitu tiba-tiba.

Aku masih tenggelam dalam tidur ketika Syafiq membangunkanku pelan. Anak istimewaku itu biasanya tak pernah berani mengusik tidurku. Tapi kali ini wajahnya terlihat ragu sekaligus cemas.

“An… udah lihat story Dewi?”

Aku menggeleng sambil masih setengah sadar.
“Belum… kenapa?”

“Abah Dewi meninggal barusan…”

Kalimat itu membuat mataku langsung terbuka sempurna.

“Innalillahi…”

Dadaku terasa kosong. Aku hanya bengong beberapa detik, seperti kehilangan arah. Dina yang sejak tadi sudah ada di rumah langsung berkata cepat.

“Ayo kita ke Dewi. Gue udah telepon Dian. Dian udah siap, nanti kita jemput.”

“Lu udah mandi?”

“Udah… tadi subuh,” jawabku singkat.

Aku pun segera bersiap. Setelah meminta izin pada suami dan anak-anak, kami berangkat menuju rumah Dewi.

Sesampainya di sana, rumah itu sudah dipenuhi banyak orang. Wajar saja. Abah Dewi bukan orang biasa di kampung kami. 

Beliau dikenal sebagai budayawan Kota Tangerang. Sosok yang banyak meninggalkan jejak cerita dan budaya.

Hari itu… sang dalang telah selesai memainkan lakonnya.

Aku memeluk Dewi erat saat bertemu dengannya. Tak ada kalimat panjang. Hanya pelukan hangat yang mencoba menyampaikan rasa kehilangan.

“Kok kurus, Wi…” ujar Dina lirih.

“Iya… Abah udah beberapa hari nggak mau makan,” jawab Dewi pelan.

“Itu pertanda baik, Wi… mungkin Abah nggak mau merepotkan orang lain di akhir usianya,” kataku mencoba menguatkan.

“Iya… insyaAllah husnul khotimah,” sambung Dian.

Dewi hanya mengangguk. Ia tampak tegar, tapi di sudut matanya aku melihat kehilangan yang begitu dalam. 

Kehilangan seorang ayah memang tak selalu hadir lewat tangisan keras. Kadang hanya diam… lalu menetap di hati paling sunyi.

Tak lama kemudian suasana mulai bergerak lebih sibuk. Orang-orang mulai bersiap untuk sholat jenazah.

Dan justru di saat itulah aku memilih pulang.

Aku pulang saat jenazah akan disholatkan.

Bukan karena tak ingin ikut mengantar. Tapi entah mengapa, dadaku tiba-tiba terasa penuh. Ada sesak yang sulit kujelaskan.

Sejak datang tadi, aku memang tak pernah benar-benar memandang wajah beliau. Pandanganku hanya jatuh pada tubuh yang telah terbungkus kain putih itu.

Diam.

Tenang.

Tak lagi membawa cerita.

Pemandangan itu membuat pikiranku melayang jauh. Tentang betapa akhirnya manusia memang hanya akan dibungkus selembar kain. 

 Tak ada jabatan. Tak ada pujian. Tak ada yang dibawa selain amal dan doa-doa yang mengiringinya.

Aku jadi teringat Omingku.

Kepergiannya dulu meruntuhkan sebagian besar jiwaku. Tapi cara beliau berpulang membuatku belajar menerima kehilangan dengan lebih ikhlas. Ada ketenangan yang Allah titipkan di balik rasa duka itu.

Dan pagi ini, di rumah Dewi, rasa itu kembali datang.

Aku sadar… usia terus berjalan. Orang-orang yang dulu membersamai masa kecil kita satu per satu mulai dipanggil pulang. 

Bahkan di sela rumah duka tadi, kami masih sempat dipertemukan dengan beberapa teman masa sekolah dasar.


Kami saling menyapa, tersenyum kecil, lalu kami bernostalgia tentang masa di sekolah sejenak.. 

Aneh memang.

Kadang kematian justru mempertemukan kembali orang-orang yang lama terpisah oleh kehidupan.

Dalam perjalanan pulang, aku memandangi jalan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada takut. Ada sedih. Ada juga kesadaran bahwa hidup ini sungguh singkat.

Dan pada akhirnya…
setiap manusia hanya sedang menunggu waktunya untuk dibungkus kain putih yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir Tahun Yang Berbeda

Cerita Pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti: Belajar Rukun di Dalam Keluarga Senin 19 Januari 2026 Kelas 1C SDN TANGERANG 3

Saat Diksi Mengetuk Kenangan