Menembus Keraguan, Menyambut Mimpi Menjadi Penulis
Malam itu saya mengikuti kegiatan KBMN (Kelas Belajar Menulis Nusantara) Gelombang 34 melalui grup WhatsApp. Tema yang diangkat sangat menarik, yaitu "Terbitkan Buku Semakin Mudah Bersama Penerbit Indie" dengan narasumber Bapak Mukminin, S.Pd., M.Pd., atau yang akrab disapa Cak Inin, seorang guru, penulis, editor, sekaligus Owner Kamila Press Lamongan.
Sejak awal kegiatan, saya merasa tema ini begitu dekat dengan kondisi diri saya. Selama ini saya senang membaca dan sesekali menulis, tetapi tulisan-tulisan itu hanya tersimpan di komputer atau buku catatan.
Saya belum pernah memberanikan diri menerbitkan karya. Bukan karena tidak ingin, melainkan karena saya selalu merasa tulisan saya belum cukup baik. Saya sering membandingkan diri dengan penulis lain yang karya-karyanya sudah terbit dan dibaca banyak orang. Akibatnya, rasa percaya diri saya semakin kecil dan impian menerbitkan buku terasa sangat jauh.
Ketika mendengarkan perjalanan hidup Cak Inin, saya justru merasa tersentuh. Beliau mulai aktif menulis dan menghasilkan banyak karya pada usia yang tidak lagi muda. Bahkan beliau berhasil menerbitkan puluhan buku, menjadi narasumber literasi, hingga mendirikan penerbit sendiri.
Dari kisah tersebut saya menyadari bahwa usia, latar belakang, maupun pengalaman bukanlah penghalang untuk berkarya. Yang paling penting adalah kemauan untuk memulai dan konsisten melangkah.
Materi yang disampaikan malam itu membuka wawasan saya tentang dunia penerbitan. Selama ini saya hanya mengenal buku yang dijual di toko-toko besar tanpa memahami proses di baliknya.
Saya baru mengetahui bahwa terdapat dua jenis penerbit, yaitu penerbit mayor dan penerbit indie.
Penerbit mayor biasanya mencetak buku dalam jumlah besar, memiliki seleksi naskah yang ketat, serta membutuhkan waktu yang relatif lama dalam proses penerbitannya.
Sebaliknya, penerbit indie lebih fleksibel, membuka kesempatan lebih luas bagi penulis pemula, serta dapat menerbitkan buku dalam waktu yang lebih cepat melalui sistem cetak sesuai kebutuhan atau Print on Demand (POD).
Penjelasan tersebut memberikan harapan baru bagi saya. Selama ini saya mengira bahwa untuk menerbitkan buku seseorang harus menjadi penulis hebat terlebih dahulu. Ternyata ada jalur yang lebih ramah bagi penulis pemula untuk belajar dan berkembang.
Hal lain yang sangat membekas adalah penjelasan mengenai tahapan menulis sebelum sebuah buku diterbitkan, yaitu prewriting, drafting, revisi, editing atau swasunting, dan publikasi.
Saya menyadari bahwa sebuah buku tidak lahir dalam satu kali proses menulis. Tulisan yang baik dibangun melalui perbaikan dan penyempurnaan yang berulang. Kesadaran ini membuat saya lebih tenang karena ternyata tidak ada tuntutan untuk menghasilkan tulisan sempurna sejak awal.
Pada sesi tanya jawab, peserta mengajukan berbagai pertanyaan tentang royalti, biaya penerbitan, syarat ISBN, hingga motivasi menulis.
Salah satu pertanyaan yang paling mengena bagi saya adalah tentang hambatan seseorang sehingga tidak pernah menyelesaikan tulisannya. Pertanyaan tersebut seolah menggambarkan diri saya sendiri.
Saya menyadari bahwa hambatan terbesar saya bukanlah kurangnya kemampuan menulis, melainkan rasa takut dan keraguan. Takut tulisan dianggap biasa saja, takut dikritik, dan takut gagal.
Padahal, selama saya terus menyimpan tulisan tanpa pernah mencoba, saya tidak akan pernah mengetahui sejauh mana kemampuan saya sebenarnya.
Dari kegiatan ini saya belajar bahwa setiap penulis besar pernah menjadi penulis pemula. Setiap buku yang terbit berawal dari keberanian seseorang untuk menuliskan kata pertama. Tidak ada karya yang langsung sempurna. Semua melalui proses belajar, revisi, dan pembelajaran yang panjang.
Saya menutup kegiatan malam itu dengan perasaan yang berbeda. Jika sebelumnya saya selalu berkata, "Saya belum mampu menulis buku," kini saya mulai berkata, "Saya sedang belajar menjadi penulis." Perubahan kalimat itu mungkin sederhana, tetapi bagi saya sangat berarti.
KBMN malam itu bukan hanya memberikan pengetahuan tentang penerbitan buku, tetapi juga menumbuhkan keyakinan baru dalam diri saya. Saya mulai percaya bahwa tulisan yang selama ini saya simpan mungkin memiliki manfaat bagi orang lain. Dan siapa tahu, suatu hari nanti, saya pun dapat memegang buku karya saya sendiri, bukan hanya sebagai pembaca, tetapi sebagai penulis.
Sebagaimana motto yang disampaikan Cak Inin, "Tiada kata terlambat untuk menulis." Kalimat itu menjadi pengingat bahwa langkah kecil yang dimulai hari ini bisa menjadi awal lahirnya sebuah karya di masa depan

Mantap sekali resumenya
BalasHapuskeren Bu Anis
BalasHapus