Menjemput Mimpi Menjadi Penulis di Tengah Kesibukan Mengajar


Resume KBMN Hari ke-15

“Menulis Buku Biografi dan Autobiografi”

Narasumber: Lely Suryani, S.Pd.SD
Moderator: Aam Nurhasanah, S.Pd

Pertemuan ke-15 KBMN Gelombang ke-34 menghadirkan suasana belajar yang hangat, santai, tetapi penuh makna. Tema yang diangkat adalah “Menulis Buku Biografi dan Autobiografi”. Dari awal kegiatan, narasumber mengajak peserta untuk memahami bahwa menulis biografi bukan sekadar mencatat tanggal lahir, riwayat pendidikan, atau daftar pencapaian seseorang. Menulis biografi adalah seni menangkap nilai kehidupan, perjuangan, kegagalan, dan harapan yang dapat menjadi pelajaran berharga bagi orang lain.

Dalam percakapan WhatsApp, narasumber menyampaikan bahwa seorang penulis biografi ibarat sutradara film yang memilih adegan terbaik dalam kehidupan tokohnya. Kalimat itu terasa sangat mengena. Ternyata menulis bukan tentang memasukkan semua cerita, melainkan memilih bagian paling bermakna agar pembaca dapat merasakan emosi dan pesan dari kisah tersebut.

Materi yang dipaparkan juga menjelaskan pengertian buku biografi dan autobiografi. Buku biografi adalah kisah hidup seseorang yang ditulis oleh orang lain, sedangkan autobiografi merupakan kisah hidup yang ditulis oleh diri sendiri dengan jujur dan tetap memegang etika kepenulisan.   Selain itu, narasumber menjelaskan tujuan menulis biografi, seperti menyampaikan kisah inspiratif, mencatat sejarah, meningkatkan pemahaman terhadap seseorang, dan memberikan informasi yang bermakna bagi pembaca. 

Saya merasa kegiatan ini sangat dekat dengan kehidupan saya sebagai guru di kelas inklusi. Di tengah kesibukan mendampingi 29 siswa dengan karakter yang berbeda-beda, termasuk dua anak berkebutuhan khusus dengan hambatan intelektual, autisme, ADHD, dan *speech delay*, saya sering merasa lelah dan kehabisan waktu untuk menulis. Namun, melalui KBMN ini saya sadar bahwa setiap hari sebenarnya saya sedang menyimpan banyak cerita yang layak dituliskan.

Saat mendampingi anak-anak belajar membaca, menenangkan mereka yang sulit fokus, atau membantu mereka mengungkapkan kata-kata sederhana, di situlah ada kisah perjuangan yang mungkin suatu saat dapat menjadi inspirasi bagi orang lain. Saya tersadar bahwa menulis bukan harus menunggu sempurna atau menunggu waktu luang datang. Seperti pesan yang disampaikan narasumber dalam grup WhatsApp: *“Jangan hanya menunggu waktu sempat, tetapi sempatkan waktu untuk memulai.”* Kalimat itu seperti mengetuk hati saya yang selama ini terlalu sering menunda menulis karena merasa sibuk.

Diskusi di grup juga terasa hidup dan menyenangkan. Peserta saling mendukung, bercanda, dan memberi semangat untuk mulai membuat autobiografi maupun biografi singkat. Moderator dan narasumber tidak hanya memberikan teori, tetapi juga mengajak peserta membuat aksi nyata. Bahkan peserta diajak masuk ke grup khusus agar proses belajar menulis bisa lebih mendalam dan menghasilkan karya yang tuntas.

Dalam materi dijelaskan pula struktur buku biografi, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup.  Selain itu, langkah menulis biografi dimulai dari penelitian mendalam, membuat garis besar, menulis pengantar, menggali pengalaman penting, hingga melakukan revisi dan meminta umpan balik.  Penjelasan tersebut membuat saya memahami bahwa menulis buku ternyata bisa dimulai dari langkah kecil dan sederhana.

Kegiatan KBMN hari ke-15 ini tidak hanya memberikan ilmu tentang biografi dan autobiografi, tetapi juga membangkitkan keberanian untuk mulai menulis kisah sendiri. Saya percaya, di balik kesibukan seorang guru kelas inklusi, selalu ada cerita yang layak dikenang dan dibagikan. Mungkin tulisan saya belum sempurna, tetapi saya ingin mulai menuliskan jejak perjuangan kecil di kelas, tentang anak-anak hebat yang belajar dengan cara mereka sendiri, dan tentang seorang guru yang masih terus belajar bertumbuh bersama mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir Tahun Yang Berbeda

Cerita Pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti: Belajar Rukun di Dalam Keluarga Senin 19 Januari 2026 Kelas 1C SDN TANGERANG 3

Saat Diksi Mengetuk Kenangan