Menulis, Mempublikasikan, dan Mengabadikan Jejak

 

Resume Kegiatan KBMN Gelombang 34

Pertemuan ke-14 — Rabu, 20 Mei 2026

Tema: Publikasi dan Legalitas Karya Tulis

Melalui WhatsApp Group KBMN Nusantara PGRI

Malam itu terasa cukup panjang bagi saya. Sejak pagi hingga sore hari, fokus dan tenaga tercurah untuk mempersiapkan kegiatan Lomba Cerdas Cermat Siswa tingkat kecamatan yang sedang kami siapkan. 

Berbagai koordinasi, penyusunan teknis, hingga memastikan setiap detail kegiatan berjalan baik menjadi rutinitas yang cukup menguras energi. Ditambah kondisi badan yang kurang sehat, rasanya ingin segera beristirahat lebih awal.

Namun, ada satu hal yang selalu mampu menguatkan langkah saya: semangat belajar dan bertumbuh bersama orang-orang hebat di dunia literasi.

Malam itu, tepat pukul 19.00 WIB, saya kembali hadir di ruang maya WhatsApp Group KBMN Gelombang 34 untuk mengikuti pertemuan ke-14 dengan tema “Publikasi dan Legalitas Karya Tulis.” 

Kegiatan dipandu dengan hangat oleh moderator, Ibu Arofiah Afifi, S.Pd., yang membuka diskusi dengan penuh semangat dan nuansa literasi yang begitu hidup.

Narasumber malam itu adalah Ibu Eka Yulia, M.Pd., atau yang akrab dikenal dengan nama pena Agisty Puteri, seorang pendidik sekaligus penulis produktif asal Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. 

Beliau merupakan Penulis Terbaik 1 KBMN-PGRI tahun 2025 yang telah menghasilkan berbagai karya berupa novel, cerpen, puisi, dan buku pendidikan.

Sejak awal pemaparan, suasana diskusi terasa hangat dan mengalir. Narasumber menyampaikan bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga bagaimana karya tersebut dapat dikenal, dibaca, serta memiliki perlindungan hukum yang jelas. 

Sebab, sebuah tulisan yang lahir dari proses panjang dan penuh perjuangan tentu layak mendapatkan apresiasi dan legalitas yang baik.

Dalam pemaparannya, saya memahami bahwa publikasi dan legalitas merupakan dua hal yang saling berkaitan namun memiliki fungsi berbeda. 

Publikasi menjadi jalan agar karya dapat sampai kepada pembaca, sedangkan legalitas menjadi bentuk perlindungan atas hak kepemilikan karya tersebut.

Beliau menjelaskan beberapa bentuk legalitas karya tulis, seperti ISBN dan HKI. ISBN digunakan sebagai identitas resmi buku agar terdata dan layak diedarkan, sedangkan HKI berfungsi memberikan perlindungan hukum terhadap karya yang dimiliki penulis. 

Penjelasan ini membuat saya semakin sadar bahwa seorang penulis tidak cukup hanya pandai menulis, tetapi juga perlu memahami cara menjaga dan melindungi hasil karyanya.

Selain itu, narasumber juga berbagi pengalaman menarik tentang perjalanan menulisnya, mulai dari menulis di Wattpad, membangun pembaca melalui media sosial, hingga akhirnya dilirik penerbit dan menerbitkan novel cetak. 

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa konsistensi adalah salah satu kunci utama dalam dunia kepenulisan.

Diskusi malam itu juga dipenuhi berbagai pertanyaan menarik dari peserta. Salah satunya tentang pentingnya memilih penerbit yang terpercaya, legalitas perangkat pembelajaran, hingga manfaat HKI bagi karya guru dan ASN.

 Narasumber menjawab dengan sangat santai namun penuh makna, sehingga materi terasa mudah dipahami.

Ada satu kalimat dari narasumber yang sangat membekas dalam ingatan saya:

“Ikatlah ilmu dalam tulisan.”

Kalimat sederhana, tetapi terasa begitu dalam. Bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jejak ilmu dan kebermanfaatan yang akan terus hidup bahkan ketika suara kita tak lagi terdengar.

Di tengah kondisi tubuh yang kurang fit malam itu, saya justru merasa mendapatkan suntikan semangat baru. 

Saya menyadari bahwa belajar tidak selalu menunggu keadaan sempurna. Kadang justru di tengah lelah, kita menemukan motivasi baru untuk terus bergerak dan berkembang.

Pertemuan malam itu menjadi pengingat bahwa karya yang baik tidak boleh hanya disimpan sendiri. 

Tulisan perlu dipublikasikan agar memberi manfaat, dan perlu dilegalkan agar memiliki perlindungan serta penghargaan yang layak bagi penulisnya.

Terima kasih kepada narasumber Ibu Eka Yulia, M.Pd., moderator Ibu Arofiah Afifi, S.Pd., serta seluruh tim KBMN Nusantara PGRI yang telah menghadirkan ruang belajar penuh inspirasi.

Semoga langkah kecil dalam dunia literasi ini terus bertumbuh menjadi jejak kebermanfaatan yang panjang.

Salam literasi. ✨


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akhir Tahun Yang Berbeda

Cerita Pembelajaran Pendidikan Budi Pekerti: Belajar Rukun di Dalam Keluarga Senin 19 Januari 2026 Kelas 1C SDN TANGERANG 3

Saat Diksi Mengetuk Kenangan