Belajar Gigih Dari Cing Ato
Resume KBMN PGRI Angkatan 34 Hari Ke-18
Malam ini, seperti malam-malam KBMN sebelumnya, saya kembali hadir sebagai seorang reader sejati. Saya lebih banyak membaca, menyimak, dan merenungkan setiap kisah yang disampaikan narasumber daripada aktif bertanya.
Namun justru dari posisi sebagai pembaca inilah saya sering menemukan pelajaran hidup yang begitu dalam.
Narasumber malam ini adalah Bapak Suharto, S.Ag., M.Pd., yang akrab disapa Cing Ato. Beliau bukan hanya seorang guru madrasah, tetapi juga sosok inspiratif yang membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Saat mendengarkan perjalanan hidup beliau, saya berkali-kali merasa kecil. Selama ini saya sering merasa menulis adalah pekerjaan yang berat. Kondisi Carpal Tunnel Syndrome (CTS) yang saya alami di kedua tangan sering menjadi hambatan.
Bahkan dalam keseharian, saya lebih nyaman menggunakan fitur voice typing lalu merapikannya kembali daripada harus mengetik panjang dengan jari-jari yang mudah lelah dan nyeri.
Namun apa arti keterbatasan yang saya alami dibandingkan perjuangan Cing Ato?
Beliau memulai perjalanan menulis karena kebutuhan. Saat menjabat sebagai wakil kepala sekolah bidang kurikulum, beliau melihat pentingnya dokumentasi dan administrasi yang baik. Dari situlah lahir semangat untuk belajar menulis.
Tahun 2016 beliau bertemu para guru besar literasi seperti Omjay, Om Dedi, dan Dr. Namin ibn Kholdun. Pertemuan itu menjadi titik awal perjalanan panjangnya sebagai penulis.
Tahun 2017 beliau berhasil menerbitkan buku solo pertama. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Takdir menghadirkan ujian yang luar biasa berat.
Seluruh saraf tubuhnya mengalami gangguan hingga tidak ada anggota tubuh yang dapat digerakkan selain leher dan mata. Napas harus dibantu oksigen, dan beliau harus menjalani hari-hari panjang di atas pembaringan selama hampir delapan belas bulan.
Saya membayangkan jika kondisi itu menimpa diri saya. Mungkin saya akan lebih banyak mengeluh daripada bersyukur.
Mungkin saya akan sibuk mempertanyakan mengapa hal itu terjadi. Namun tidak demikian dengan Cing Ato.
Di tengah keterbatasan fisik yang sangat berat, beliau justru menemukan alasan baru untuk menulis. Beliau bertanya kepada dirinya sendiri.
"Apa yang masih bisa saya lakukan agar tetap bermanfaat bagi banyak orang?"
Jawabannya adalah menulis.
Setiap malam beliau mencari ide. Setiap selesai salat Subuh beliau menulis artikel sederhana. Tulisan-tulisan itu kemudian dibagikan melalui media sosial.
Dari sana lahir apresiasi, semangat, dan manfaat yang terus mengalir kepada banyak orang.
Saya tersentuh ketika beliau mengatakan bahwa jika sehari tidak menulis, ada sesuatu yang terasa kurang dalam dirinya. Menulis telah menjadi terapi, sahabat, sekaligus jalan pengabdian.
Bagi Cing Ato, menulis bukan sekadar menghasilkan uang atau mengejar popularitas.
Menulis adalah sarana berbagi manfaat. Bahkan banyak buku yang beliau wakafkan untuk sekolah, komunitas literasi, dan masyarakat. Sebuah bentuk sedekah ilmu yang nilainya jauh melampaui keuntungan materi.
Dari konsistensinya menulis, berbagai penghargaan pun datang menghampiri. Mulai dari Guru Madrasah Inspiratif tingkat Nasional, penghargaan pendidikan dan pengembangan umat, hingga tampil sebagai narasumber di televisi nasional.
Namun yang paling berkesan bagi saya bukanlah daftar penghargaan tersebut, melainkan keteguhan hati beliau yang tidak pernah menyerah pada keadaan.
Saya juga belajar dari prinsip yang beliau pegang teguh, yaitu ajian pamungkas dari Omjay: "Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi." Kalimat sederhana yang ternyata mampu mengubah kehidupan seseorang.
Sebagai seorang guru yang masih lebih sering menjadi pembaca daripada penulis, saya menyadari bahwa perjalanan literasi bukanlah perlombaan dengan orang lain.
Setiap orang memiliki titik awal, tantangan, dan jalannya masing-masing. Jika Cing Ato mampu menulis puluhan buku dalam kondisi yang jauh lebih berat, maka seharusnya saya tidak menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti mencoba.
Mungkin saya belum mampu menulis buku solo. Mungkin tulisan saya masih sederhana. Mungkin saya masih mengandalkan suara untuk menuangkan ide.
Namun malam ini saya belajar bahwa yang terpenting bukanlah seberapa hebat tulisan kita, melainkan keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk terus melangkah.
Terima kasih, Cing Ato. Kisah perjuangan Anda mengingatkan saya bahwa karya besar sering lahir bukan dari kemudahan, tetapi dari keteguhan hati menghadapi keterbatasan.
Salam literasi.
"Terus menulis walau satu kalimat, terus belajar walau tertatih-tatih, karena siapa tahu dari satu tulisan sederhana akan lahir manfaat yang tidak pernah kita duga sebelumnya."

Komentar
Posting Komentar
Terima kasih atas commentnya. Yuukk lihat postingan yang lain